Sabtu, 12 September 2009

CARA CEPAT MENGHITUNG ZAKAT HARTA

Assalamuálikum Wr Wb
Membayar Zakat di bulan ramadhan memiliki banyak manfaat berlapis lapis yang anda semua sudah pasti mengetahuinya. Terlampir di bawah ini adalah perhitungan zakat harta yang telah disimpan satu tahun atau lebih. Seluruhnya di nilai dengan menggunakan kalkulasi nilai terakhir sekarang ini.
Misalnya tahun lalu harta emas anda 100 gram dengan nilai @ 115.000 dan tahun ini adalah nilai per gram @ 125.000 maka kalkulasi adalah dengan menggunakan nilai terakhir ini.
Zakat arti kata nya adalah SUCI. Berzakat adalah men-suci-kan diri. Memiliki harta yang suci adalah pondasi dari bersihnya amalan ibadah diterima Illahi Rabbi. Tunaikan zakat tersebut segera.
Kalkulasi Zakat Harta: ZAKAT HARTA YANG TERSIMPAN SATU TAHUN
a. Uang Tunai, Tabungan, Deposito atau sejenisnya
b. Saham atau surat-surat berharga lainnya
c. Real Estate (tidak termasuk rumah tinggal yang dipakai sekarang)
d. Emas, Perak, Permata atau sejenisnya
e. Mobil (lebih dari keperluan pekerjaan anggota keluarga)
f. Jumlah Harta Simpanan (a+b+c+d+e)
JUMLAH ZAKAT YANG WAJIB DIBAYARKAN PER TAHUN (2,5% X f)
note: Jika anda memiliki beban hutang maka perhitungannya sebagai berikut :
g. Hutang Pribadi yg jatuh tempo dalam tahun ini
MAKA JUMLAH ZAKAT YANG WAJIB DIBAYARKAN PER TAHUN (2,5% X (f-g) )
Demikian semoga bermanfaat.Wassalam

Widgetbox › Internet Sehat Widget

Widgetbox › Internet Sehat Widget

Jumat, 11 September 2009

Sekedar nasihat tuk kaum Hawa

1.Untuk membentuk bibir yang menawan, Ucapkan kata-kata kebaikan.
2.Untuk mendapatkan mata yang indah, Carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai.
3.Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, Berbagilah makanan dengan mereka yang kelaparan.
4.Untuk mendapatkan rambut yang indah, Mintalah seorang anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari.
5. Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, Berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, Dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian. Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain, Perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni.
6. Jadi, jangan pernah kucilkan seseorang dari hati anda Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, Ingatlah senantiasa, Jika suatu ketika anda membutuhkan pertolongan, Akan senantiasa ada tangan terulur.
7. Dan dengan bertambahnya usia anda, Anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, Satu untuk menolong diri anda sendiri, Dan satu lagi untuk menolong orang lain.
8. Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakannya, Bukan pada bentuk tubuhnya, atau cara dia menyisir rambutnya.
9. Kecantikan wanita terdapat pada matanya, cara dia memandang dunia. Karena di matanyalah terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, Di mana cinta dapat berkembang.
10. Kecantikan wanita, bukan pada kehalusan wajahnya, Tetapi kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, Yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta yang dia berikan Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu.

Dosa Yang Lebih Hebat dari Berzina

Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s.
Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk". Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya." "Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa as terkejut. "Saya takut mengatakannya." jawab wanita cantik. "Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa. Maka perempuan itupun terpatah bercerita, "Saya ......telah berzina." Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.
Perempuan itu meneruskan, "Dari perzinaan itu saya pun......lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya....... cekik lehernya sampai......tewas", ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi musaberapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik," Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!"...teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.
Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa.
Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?"Nabi Musa terperanjat. "Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.
"Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?" "Ada!" jawab Jibril dengan tegas. "Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran."Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina".Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya.Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.
Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman didadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.
Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH > Abdurrahman Arroisy) Dalam hadist Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah.
Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari di akherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia.Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.
Tolong sebarkan kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahui.============wallahu'alam.......courtesy from dudung.net

Setelah Ramadhan Berlalu ...

Setelah bulan Ramadhan berlalu, orang akan terbagi menjadi beberapa bagian, namun secara garis besarnya mereka terbagi dua kelompok :
Kelompok yang pertama : Orang yang pada bulan Ramadhan tampak sungguh-sungguh dalam ketaatan, sehinggga orang tersebut selalu dalam keadaan sujud, shalat, membaca Al-Quran atau menangis, sehingga bisa-bisa anda lupa akan ahli ibadahnya orang-orang terdahulu (salaf). Anda akan tertegun melihat kesungguhan dan giatnya dalam beribadah.
Namun itu semua hanya berlalu begitu saja bersama habisnya bulan Ramadhan, dan setelah itu ia kembali lagi bermalas-malasan, kembali mendatangi maksiat seolah-olah ia baru saja dipenjara dengan berbagai macam ketaatan kembalilah ia terjerumus dalam syahwat dan kelalaian. Kasihan sekali orang-orang seperti ini.
Sesungguhnya kemaksiatan itu adalah sebab dari kehancuran karena dosa adalah ibarat luka-luka, sedang orang yang terlalu banyak lukanya maka ia mendekati kebinasaan. Banyak sekali kemaksitan-kemaksiatan yang dapat menghalangi seorang hamba untuk mengucap "La ilaha illallah" ketika sakaratul maut. Setelah sebulan penuh ia hidup dengan iman, Al-Quran serta amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah, tiba-tiba saja ia ulangi perbuatan-perbuatan maksiatnya di masa lalu. Mereka itulah hamba-hamba musiman mereka tidak mengenal Allah kecuali hanya pada satu musim saja (yakni Ramadhan), atau hanya ketika ditimpa kesusahan, jika musim atau kesusahan itu telah berlalu maka ketaatannyapun ikut berlalu. Na’udzu billah min dzalik.
Kelompok yang kedua :Orang yang bersedih ketika berpisah dengan bulan Ramadhan mereka rasakan nikmatnya kasih dan penjagaan Allah, mereka lalui dengan penuh kesabaran, mereka sadari hakekat keadaan dirinya, betapa lemah, betapa hinanya mereka di hadapan Yang Maha Kuasa, mereka berpuasa dengan sebenar-benarnya, mereka shalat dengan sungguh-sungguh. Perpisahan dengan bulan Ramadhan membuat mereka sedih, bahkan tak jarang diantara mereka yang meneteskan air mata. Apakah keduanya itu sama? Segala puji hanya bagi Allah! Dua golongan ini tidaklah sama, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman : Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya [*] masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (Al-Isra': 84).[*] termasuk dalam pengertian keadaan disini ialah tabiat dan pengaruh alam sekitarnya.
Para ahli tafsir mengatakan, makna ayat ini adalah bahwa setiap orang berbuat sesuai dengan keadaan akhlaq yang sudah biasa ia jalani. Barangsiapa berpuasa siang hari di bulan Ramadhan dan shalat di malam harinya, melakukan kewajiban-kewajibannya, menahan pandangannya, menjaga anggota badan serta menjaga shalat jum'at dan jama'ah dengan sungguh-sungguh untuk menyempurnakan ketaatannya sesuai yang ia mampu maka bolehlah ia berharap mendapat ridha Allah, kemenangan di Surga dan selamat dari api Neraka. Orang yang tidak menjadikan ridha Allah sebagai tujuannya maka Allah tidak akan melihatnya.
Jangan seperti orang yang merusak tenunan yang kuat hingga bercerai berai Hati-hatilah, jangan seperti seorang wanita yang memintal benang (menenun) dari kain tersebut ia bikin sebuah gamis atau baju. Ketika semuanya telah usai dan nampak kelihatan indah, maka tiba-tiba saja ia potong kain tersebut dan ia cerai beraikan, helai-demi helai benang dengan tanpa sebab.
Berhati-hati jualah Anda, terutama bagi diri kami pribadi)red! jangan sampai seperti seorang yang diberi oleh Allah keimanan dan Al-Quran namun ia berpaling dari keduanya, dan ia lepaskan keduanya sebagaimana seekor domba yang dikuliti, akhirnya ia masuk keperngkap syetan sehingga jadi orang yang merugi, orang yang terjerumus di dalam jurang yang dalam, menjadi pengikut hawa nafsunya, Naudzu billah mindzalik. Allah Subhanahu wata’ala berfirman : "Dan bacakanlah kepada mereka berita kepada orang yang telah kamu berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian mereka melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syetan sampai ia tergoda, maka jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki sesunguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu. Tetapi ia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannnya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir." (Al-A'raaf: 175-176). Mengenai amal yang paling dicintai oleh Allah. Rasulullah pernah ditanya : Amalan apa yang paling di sukai Allah? Beliau menjawab: "Yakni yang terus menerus walaupun sedikit". ‘Aisyah radhiyallah 'anha ditanya : Bagaimana Rasulullah mengerjakan sesuatu amalan, apakah ia pernah mengkhususkan sesuatu sampai beberapa hari tertentu, ia menjawab: "Tidak, namun Beliau mengerjakan secara terus menerus, dan siapapun diantara kalian hendaknya ia jika mampu mengerjakan sebagaimana yang di kerjakan Rasulullah Shallallahu alahi wassalamHadits ini memberikan beberapa pelajaran, antara lain : Hendaknya, seluruh kebajikan kita laksanakan secara keseluruhan tanpa pilih-pilih menurut kemampuan kita dan dikerjakan secara rutin. Tengah-tengah dalam beribadah (sedang-sedang), dan menjauhi segala bentuk berlebihan, agar jiwa selalu bersemangat dan lapang, maka dengan ini akan tercapai segala tujuan ibadah, dan sempurna dari berbagai segi. Supaya rutin dalam beramal, suatu amalan meskipun sedikit jika dilakukan secara terus menerus lebih baik dari pada amalan yang banyak namun terputus. Dengan demikian amalan yang sedikit namun rutin akan memberi buah dan nilai tambah yang berlipat ganda daripada amalan banyak yang terputus-putus.Terus Beribadah Hingga Ajal Menjemput Allah Yang Maha Suci dan Maha Mulia telah berfirman kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu alahi wassalam : "Beribadah kamu kepada Rabbmu hingga datang kepadamu Al Yaqin". Yakni maut / kematian. Maksud ayat ini adalah : Janganlah kamu berhenti dari beribadah sehingga kamu mati. jadikanlah batas ibadah adalah batas kehidupan. Telah berkata hamba Allah Nabi Isa (dalam Al Quran) : "Dan Dia telah memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku masih hidup." (Maryam: 31). Nabi bersabda, yang arinya : "Sesungguhnya jika anak adam meninggal maka putus sudah amalnya.." Maka dari sini tiada yang membatasi atau memutuskan amal ibadah kecuali bila telah datang maut.
Jadi meskipun bulan Ramadhan telah berlalu maka seoarang Mukmin hendaknya jangan berhenti dari menjalankan puasa, karena masih banyak puasa-puasa yang lain yang disyariatkan dalam waktu setahun seperti puasa tiga hari dalam tiap bulan, puasa senin kamis, puasa Arofah dan lain-lain. Demikian juga meskipun qiyam di bulan Ramadhan (tarawih) telah usai maka seorang mukmin janganlah berhenti dari menjalakan shalat malam.
.(Sumber; Wa Madza ba'da Ramadhan )
YA MUQALIBBAL QULUB TSABBIT QALBI ‘ALA DIINIKA“wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu”(HR. At-Tirmidzi 4/390).

Sabtu, 05 September 2009

Keutamaan Istighfar

Sering kita melafazhkan kalimat istighfar (astaghfirullahal adzhim wa'atubu ilaik) dalam berbagai kesempatan baik setelah shalat atau sambil memasak, merapikan rumah atau ketika kita khusyu' bermunajat kepada-Nya....banyak diantara kaum muslimin yang belum mengetahui begitu banyak keutamaan kalimat yang mulia ini...sehingga banyak diantara mereka mengeluh atas segala problema yang mereka hadapi baik kesempitan dalam rezeki, sulitnya mendapatkan keturunan, kegersangan hidup dan juga tidak kunjungnya hujan turun...semuanya telah Allah berikan jalan keluarnya dalam Al-Qur'an termaktub dalam surat Nuh ayat 10-12 mari bersama kita lihat ayat dan tafsirnya berikut ini...

“Maka aku katakan kepada mereka,’Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun (10) Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat (11) Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai(12)

”Ayat-ayat diatas menerangkan cara mendapatkan hal-hal berikut dengan istighfar:Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya.

Berdasarkan firman-Nya: ‘Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun’Diturunkannya hujan yang lebat oleh Allah. Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata:”Midraara” adalah hujan yang turun dengan deras.(Shahihul Bukhari, 8/666)

Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak. Dalam menafsirkan ayat:’Wa yumdidkum biamwalin wa banin’ Atha’ berkata: Niscaya Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian .Allah akan menjadikan untuknya kebun-kebun

Allah akan menjadikan untuknya sungai-sungai.

Imam Al-Qurthubi berkata:”Dalam ayat ini, juga disebutkan dalam surat Hud {Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya : Hud ayat 3} adaalah dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sarana meminta diturunkannya rezeki dan hujan” (Tafsir Al-Qurthubi 18/302]

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata:“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohon ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun’ maknanya: bertobatlah kamu dari kemusyrikan dan esakanlah Dia Yang Maha Tinggi. Karena barangsiapa yang bertaubat kepada Allah, maka Allah akan menerima taubatnya walaupun dosanya besar.Atau jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya dan kalian senantiasa mentaatiNya, niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang didalamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai diantara kebun-kebun itu untuk kalian”*

Demikianlah, dan Amirul mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu juga berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini beliau memohon hujan dari Allah Subhanahu wa ta’aala.

Muthrif meriwayatakan dari Asy-sya’bi:”Bahwasanya Umar radhiyallahu anhu keluar untuk memohon hujan bersama orang banyak. Dan, beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) Lalu beliau pulang. Maka seorang bertanya kepadanya,”Aku tidak mendengar anda memohon hujan” maka ia menjawab,”Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih {majadih yaitu: salah satu jenis bintang yang menurut bangsa Arab merupakan bintang (yang jika muncul) menunjukkan hujan akan turun. Maka Umar menjadikan istighfar sama dengan bintang-bintang tersebut, suatu bentuk komunikasi melalui apa yang mereka ketahui. Dan sebelumnya mereka menganggap bahwa adanya bintang tersebut pertanda akan turun hujan, dan bukan berarti bahwa Umar berpendapat bahwa turunnya hujan karena bintang-bintang tersebut.Tafsir Al_khazin, 7/154}langit yang dengannya diharapkan bakal turun air hujan. Lalu beliau membaca ayat kesepuluh dan sebelas dari surat Nuh.

Imam Hasan Al-bashri juga menganjurkan istighfar (memohon ampun) kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan, kefakiran, sedikitnya keturunan dan kekeringan kebun-kebun.

Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata:”Ada seorang laki-laki mengadu kepadanya Hasan Al-Bashri tentang kegersangan bumi maka beliau berkata kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!” yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!” yang lain lagi berkata kepadanya,”Doakanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!” maka beliau mengatakan kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!”Dan yang lain lagi mengadu tentang kekeringan kebunya maka beliau mengatakan pula kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!” Dan, kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama.Dalam riwayat lain disebutkan:”Maka Ar-Rabi’ bin Shabih berkata kepadanya:Banyak orang yang mengadukan bermacam-macam perkara dan anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar.

Maka Hasan Al-Bashri menjawab:”Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri.tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat-Nya (Nuh ayat 10-12)Sebagai tambahan bahwa memohon ampun kepada Allah (istighfar) dalam ayat diatas menurut para ulama tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan hanya dengan lisan saja akan tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan apabila seseorang memohon ampun kepada Allah hanya dengan lisan saja tanpa disertai dengan perbuatan maka itu adalah pekerjaan para pendusta. (Al-Mufradat fi ghariibil Qur’an hal:362)

Ya,Allah jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang pandai beristighfar. Dan karuniakanlah kepada kami buahnya didunia maupun akhirat . Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Amin.Wahai Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus makhluk-Nya.

Sumber:@ Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir,GIP,4/818-820 Kunci-Kunci Rezki menurut Al-Qur’an dan Sunnah,Darul Haq,1998

PERINGATAN PENTING SELAMA RAMADHAN

Oleh: Muhammad Hasan Yusuf

Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah bulan agung yang wajib diperhatikan melebihi bulan-bulan lainnya. Oleh karena itu ada beberapa peringatan penting:

1. Banyak terjadi keteledoran dalam tiga waktu berharga yang mahal, yaitu: setelah shalat fajar, yang biasanya disia-siakan dengan tidur atau jalan-jalan pagi secara ikhtilath (campur laki-laki dan perempuan); sore hari sebelum maghrib, yang biasa disia-siakan dengan sibuk membuat dan menyiapkan makanan berbuka; dan waktu sahur, yang disia-siakan dengan antara tidur dan sibuk dengan makan sahur. Padahal ketiga waktu tersebut adalah waktu perjalanan menuju Allah dengan berbagai ketaatan.

2. Berhati-hatilah, jangan memperbanyak tidur di bulan Ramadhan. Sebagaimana dikatakan oleh Syaddad bin Aus t : "Kami tidak mengenal tidur dalam bulan Ramadhan, dan tidak banyak tidur." Maka tidur yang paling bermanfaat adalah saat sangat dibutuhkan. Tidur di awal malam lebih terpuji dan bermanfaat daripada di akhirnya. Tidur di tengah hari lebih bermanfaat daripada di pagi dan sorenya. Setiap kali tidur itu dekat dengan kedua penghujung hari maka sedikit manfaatnya, banyak madharatnya, terutama tidur ashar, dan tidur di pagi hari kecuali bagi mereka yang tidak tidur semalaman.Dan termasuk perkara yang dibenci menurut salaf adalah tidur antara shalat subuh dan terbitnya matahari. Dikarenakan itu adalah waktu ghanimah (pembagian harta berharga), memanfaatkan waktu tersebut adalah sebuah keistimewaan yang agung menurut orang-orang yang menitinya dengan ketaatan, hingga seandainya mereka melalui panjangnya malam dengan ketaatan, mereka tidak akan mengizinkan berhenti melalui waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena waktu tersebut adalah awal hari dan kunci pembukanya, waktu turunnya rizqi, waktu mendapatkan bagian, dan waktu turunnya berkah. Darinyalah siang hari beranjak, dan seluruh hukum terseret di atas bagian tersebut. Maka hendaknya tidur pada saat tersebut adalah tidurnya orang yang sangat terpaksa. (Tahdzibu Madarijis Salikin (201))

3. Banyak diantara kaum wanita berada pada puncak semangat hingga datang padanya waktu haidh, lalu menurunlah semangatnya secara drastis yang dengannya dia tidak mampu lagi meneruskan amal yang serius setelah terputus dari haidh. Maka wajib bagi saudari muslimah untuk berusaha melipatgandakan amal-amal kebaikan dan ketaatan yang dibolehkan di masa-masa haidh. Berharaplah pahala dengan meninggalkan puasa serta shalat pada masa haidh, yaitu bahwa dia tidak meninggalkan peribadatan tersebut kecuali karena beribadah kepada Allah I, karena Allah-lah yang telah memerintahkan dengannya. Yang demikian itu lain dari apa yang diharapkan pahalanya dengan dituliskannya pahala untuknya seperti saat dia mengapalkannya pada hari-hari sucinya.
Berdasarkan sabda Nabi r:إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحً
ا"

Jika seorang hamba sakit atau bepergian, maka Allah I menuliskan pahala untuknya seperti saat dia beramal dalam keadaan sehat dan mukim (tidak musafir)." (Shahih, Shahihul Jami' (799))Mungkin juga ia bisa mengganti shalat dan puasa dengan berbagai bentuk taqarrub yang berbeda-beda, seperti berdzikir kepada Allah, beristighfar, bershalawat atas Nabi r, berdo'a, shadaqah, membaca kitab-kitab yang bermanfaat, turut andil dalam memberi buka orang-orang yang berpuasa, dan amal-amal kebaikan lainnya. Sebagaimana masih memungkinkan baginya untuk membaca tafsir al-Qur`an atau meneruskan khataman al-Qur`an yang telah dimulainya dengan cara mendengar dari kaset murattal. (AR)* (* Majalah Qiblati Volume 2 Edisi 12